Streaming Bisa Jadi Alternatif untuk Radio Kampus

CILACAP-Pengadaan radio berbasis frekuensi bukan persoalan gampang. Setidaknya ada perangkat dan perizinan yang harus dipenuhi. Maka, radio berbasis streaming bisa menjadi alternatif bagi kampus.

Muhammad Ridwan, dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Imam Ghozali menjelaskan soal radio berbasis frekuensi. Menurutnya, radio berbasis frekuensi membutuhkan tower, komputer untuk studio, mixer.

Untuk tower, ujarnya, ada alat yang semacam ampli. “Ampli di sini ada dua pilihan, yakni  rakitan sendiri atau built up. Kalau yang built up itu harganya lumayan mahal. Kalau yang rakitan sendiri itu untuk perizinan tidak boleh. Sebab, pemerintah mewajibkan bahwa semua peralatan itu harus asli tidak boleh rakitan sendiri,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, untuk frekuensi sendiri, harus memiliki izin dari lembaga terkait. Jika radio tak memiliki izin dengan mencuri frekuensi, maka bisa berbuntut panjang. Lembaga monitoring dari provinsi bernama Balai Monitoring yang akan memprosesnya. “Tindakan pertama yang dilakukan oleh Balai Monitoring adalah penyitaan, penyitaan alat-alat. Lalu yang kedua kalau masih bandel, bisa dipidanakan di jalur hukum,” katanya.

Maka, dengan kerumitan radio berbasis frekuensi, radio berbasis streaming bisa jadi alternatif kampus. “Kalau streaming itu tidak perlu tower, tidak perlu alat semacam ampli itu, tapi kita cukup membutuhkan alat untuk streaming, seperti web. Lalu nanti bisa membeli domain, yang per bulannya sekitar 200-300 ribuan,” ujarnya

Selain itu, katanya, dibutuhkan komputer dan jaringan internetnya. “Lebih bagus lagi ada mixernya,” ujarnya

Dia mengatakan, saat ini radio streaming belum mempunyai undang-undang untuk proses perizinannya. Namun, tentu saja jika ada isi dari siaran radio yang melanggar hukum bisa terkena UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara, Wakil Rektor II Masruri SAg MSi mengatakan bahwa mekanisme pengadaan barang dan unit melalui proposal. Tentu dijelaskan juga nantinya berapa kebutuhannya. “Proposal itu kemudian diajukan ke pihak yang bertanggung jawab di kampus,” ujarnya. (*)

Laporan: Fajri Akhla Sabilah, Azhar Sholeh Mukti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *