Diskusi Kebangsaan Pancasila

diskusi

Cilacap, Senin (30/11/2015) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG) Cilacap, mengadakan diskusi kebangsaan yang bertemakan tentang Pancasila sebagai dasar falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diskusi ini sebenarnya sudah diagendakan sejak bulan lalu, namun baru dapat terlaksana di bulan november ini.
Panitia menghadirkan 3 narasumber, yaitu Moh.Taufik Hidayatulloh S.Ag selaku ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kab. Cilacap, Khazam Bisri S.Ag selaku perwakilan dari Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kab. Cilacap, serta Dr. Umi Zulfah M.Pd selaku praktisi akademis di IAIIG Cilacap.
Para peserta datang dari berbagai kalangan masyarakat, muali dari pelajar SMA, mahasiswa, pekerja swasta, civitas akademika dan masyarakat umum.
Diskusi berjalan cukup baik dan hidup, partisipasi peserta juga cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta yang bertanya kepada pembicara mengenai pancasila dan berbagai persoalan terkait pancasila sebagai dasar negara dan juga dasar falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dewasa ini, banyak bermunculan nilai-nilai ataupun ideologi-ideologi yang berusaha untuk merusak pancasila serta kepercayaan dan keyakinan generasi muda kita terhadap nilai-nilai pancasila. Siapa yang bertanggung jawab terhadap eksistensi pancasila ? apa yang harus dilakukan para orang tua untuk melindungi ataupun membentengi anaknya dari ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan pancasila ? pertanyaan itu diajukan oleh salah satu peserta diskusi.
Tentu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menjaga eksistensi pancasila, karena pancasila adalah cerminan dari bangsa Indonesia, pancasila tidak lahir secara serta merta, tetapi melalui sebuah proses yang panjang dan berliku. Untuk itu, pancasila adalah milik kita bersama dan menjadi tanggung jawab kita bersama khususnya para generasi muda.
Di tengah-tengah diskusi tersebut, para peserta juga diminta untuk membacakan pancasila sebagai salah satu bukti rasa cinta tanah air. Meskipun sebenarnya bukan persoalan hafal atau tidak hafal, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana diungkapkan oleh Dr.Umi Zulfah M.Pd dalam diskusi tersebut. (Doc.Fina)

The History Of Nyai Sugih

60397716

Desa kesugihan dikenal dengan kota santri karena setidaknya ada lebih dari 5 pesantren yang berdiri di Kesugihan. Pesantren itu diantaranya Pesantren Al-Fiel, Pesantren ‘Ainul Huda, Pesantren Apik, Pesantern Manarul Huda, Pesantren Assasunnajah, dan yang terbesar adalah pesantren Al-Ihya ‘Ulumaddin.

Namun terlepas dari keberadaan pesantren tersebut, ternyata terdapat sebuah kisah  yang beredar di masyarakat Kesugihan tentang keberadaan Nyai Sugih. Ada beberapa versi kisah yang berkembang di masyarakat Kesugihan mengenai Nyai Sugih.

Salah satu kisah yang kami dapatkan dari seorang narasumber bernama Hasan Asari yang merupakan juru kunci makam Nyai Sugih, beliau bercerita bahwa Nyai Sugih merupakan seorang penggawa dari kerajaan Majapahit. Pada saat itu, terjadi kekacauan di Majapahit akibat dari adanya peperangan. Nyai Sugih memutuskan untuk meninggalkan Majapahit dalam rangka mennyelamatkan diri. Dalam perjalanannya, Nyai Sugih di temani oleh tiga orang yakni, Condro Wirito (ada yang menyebutkan bahwa ia anak tunggal Nyai Sugih), mbah Joko Satru (seorang prajurit kerajaan), dan mbah Dul Bari (seorang yang mengabdi pada Nyai Sugih). Nyai Sugih beserta tiga orang tersebut beristirahat di suatu wilayah di Cilacap yang belum berpenghuni. Karena dirasa wilayah itu cukup subur dan makmur akhirnya Nyai Sugih memutuskan untuk menetap di wilayah itu yang kemudian dikenal dengan nama “Kesugihan”.

Ada juga kisah lain yang mengisahkan tentang Nyai Sugih. Ada kepercayaan di masyarakat Kesugihan bahwa orang-orang dari Kesugihan tidak boleh menikah dengan orang-orang dari Pesanggrahan. Konon, ada 2 makam Panembahan yang dikeramatkan di kedua desa tersebut. Makam Nyai Sugih di desa Kesugihan dan juga makam Ki Watulingga di desa Pesanggrahan. Alkisah, dahulu kala pada masa kerajaan Mataram di pimpin oleh Sultan Agung, setelah selesai melakukan penyerangan terhadap Belanda di Batavia, sebagian pasukan tidak pulang ke Keraton Mataram namun menetap, karena berbagai alasan salah satunya karena menikah dengan salah seorang penduduk di daerah yang dilalui pasukan,dan  ada juga yang berguru kepada orang sakti atau bertapa (mencari jati diri).

Salah satu dari pasukan yang tidak kembali ke keraton adalah Ki Watulingga. Alasannya adalah karena ia tertarik dengan salah satu gadis yang merupakan bunga desa yang bernama Nyai Sugih. Pada waktu itu banyak anak-anak muda yang tertarik dengan Nyai Sugih, disamping ia adalah putri seorang saudagar kaya raya, ia juga memiliki wajah yang sangat cantik. Karena banyaknya pemuda yang datang untuk melamar, orang tua Nyai Sugih akhirnya memutuskan untuk mengadakan sayembara adu kesaktian, barang siapa yang memenangkan sayembara itu, maka ia akan menjadi suami Nyai Sugih.

Semua orang tau bahwa yang paling sakti di wilayah Karsidenan Banyumas adalah bupati Banyumas yang bernama Arya Gumarang, disamping memiliki kesaktian, beliau juga merupakan anak muda yang memiliki ketampanan luar biasa dan sebenarnya juga mempunyai niat untuk menikahi Nyai Sugih. Disisi lain Nyai Sugih ternyata juga tertarik dengan Arya Gumarang. Namun karena sayembara sudah diumumkan, pada hari itu juga seluruh pemuda yang mempunyai nyali bertaruh nyawa untuk memenangkan pertarungan.

Sayangnya pada hari itu, Arya Gumarang dipanggil raja Mataram untuk menghadap. Pada akhirnya sayembara dimenangkan oleh Watulingga, Nyai Sugihpun menolak hasil sayembara itu dengan alasan Arya Gumarang tidak hadir. Watulingga murka dan mengamuk kepada orang tua Nyai Sugih, serta membunuh Nyai Sugih. Sebelum meninggal, Nyai Sugih membuat kutukan bahwa orang Kesugihan (tempatnya berasal) tidak diperkenankan untuk menikah dengan orang Pesanggrahan (tempat asal Ki Watulingga), jika hal itu terjadi maka salah satunya akan celaka atau gila dan hal buruk lainnya akan terjadi.

Makam Nyai Sugih sendiri dipercaya ada di desa kesugihan tepatnya di daerah tipar. Ada 2 makam yang terdapat dipemakaman itu yang dikeramatkan, yaitu makam Nyai Sugih dan juga makam mbah Jaga Satru.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Nyai Sugih ini, banyak masyarakat yang percaya. Dan kisah Nyai Sugih ini sudah menjadi bagian dari desa kesugihan. Apakah anda percaya ? Hanya  Alloh SWT yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ian ma tha, Aas (red. Fina)